Football betting terms_Buy lottery app_Online Baccarat Casino_Baccarat Malaysia_Malaysia Gambling Network

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Kasino online.

IndonesiIndonesia Lottery LooIndonesia Lottery Loopholespholesa Lottery Loopholesawalnya memang canggung memulai obrolan, apalagi dengan orang asing dan cuma bisa saya lihat via dunia maya. Namun, saya merasakan kebersamaan yang mulai jarang saya dapatkan ketika pandemi Covid-19 melanda. Terhubung dengan orang lain membuat saya merasa tidak sendiri. Seperti dikutip dari BBC, bicara dengan orang asing memang memberikan keuntungan seperti menumbuhkan rasa kebersamaan, mengusir kesepian, dan menumbuhkan empati.

Sementara itu, akun kedua senang membahas kucing. Bahkan, beberapa kali ia membuka donasi untuk menyelamatkan kucing jalanan. Kemudian, akun terakhir suka membahas buku. Dari cuitan-cuitannya, ia juga berjualan buku bekas.

Banyak orang bilang bahwa menua artinya kita harus siap dan mampu menikmati sepi. Waktu seorang teman mengatakannya dua tahun silam, saya nggak paham. Yang ada di dalam benak saya, menua baru sebatas seputar jadi dewasa, bisa membiayai hidup sendiri, dan berkontribusi terhadap masyarakat. Saya baru tahu kalau menjadi tua lebih dari sekadar mandiri.

Dari eksperimen sederhana ini, saya sampai pada kesimpulan kalau menjalin pertemanan dengan orang baru dan asing di media sosial, tidaklah mudah. Saya harus punya energi yang cukup untuk menemukan mutual yang tepat. Soalnya, tak semua tawaran pertemanan akan bersambut. Ketika sudah menjalin komunikasi via DM pun, obrolan bisa berhenti kapan saja dan tak terduga. Mutual bisa menghilang tiba-tiba.

Setelah mengetahui manfaatnya berkenalan dengan orang asing, mungkin kamu tertarik mencobanya?

Hari berikutnya, saya masih mendapati fitur DM Twiter kosong alias tanpa balasan. Demi mengalihkan kesedihan, saya memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan. Menjelang sore, saya kembali membuka akun Twitter dengan harapan sudah ada balasan yang masuk. Namun, lagi-lagi balasan yang ditunggu-tunggu tetap tak ada.

Muali menghubungi mutual di Twitter | Photo by Porapak Apichodilok on Pexels

Kesepian menghantui orang-orang yang menua | Photo by cottonbro from Pexels

Akhirnya, saya bisa ngorol dengan mutual di Twitter | Photo by Cristian Dina on Pexels

Manfaat curhat dengan orang asing di Twitter | Illustration by Hipwee

Dengan harapan dan kecemasan, saya membuka fitur DM. Saya membatin, semoga sudah ada balasan. Namun, kepahitan memang harus saya rasakan. DM saya masih sepi, belum ada balasan. Akhirnya, saya mengawali hari itu dengan kekecewaan. Tapi, saya masih cukup optimis. Pasalnya, saya yakin dan percaya diri bahwa tawaran pertemanan tersebut cukup sopan dan ramah.

Obrolan kami pun dimulai. Kami saling memperkenalkan diri dan membagikan minat seputar kucing. Sebenarnya, saya berharap perbincangan kami bisa awet. Rasanya menyenangkan bila punya teman baru yang punya kesukaan yang sama. Namun, obrolan kami berhenti di tengah jalan begitu saja. Pesan terakhir dari saya, tidak dibalas olehnya hingga tulisan terbit. Pada titik ini, saya menyadari kalau memulai perbincangan dengan orang asing dan baru tak semudah di bayangan.

Nah, suatu hari saya dapat anugerah ide. Gara-gara seorang teman yang mengaku bisa mengusir rasa sepi setelah berkenalan dengan stranger di media sosial. Dulu, orang tua memang sering melarang anak untuk bertemu dan berkenalan dengan orang asing di jalan. Namun di zaman serba digital seperti sekarang, media sosial bisa jadi satu-satunya ‘tempat’ kita bisa berkenalan dengan orang baru untuk mendapatkan teman, lowongan kerja hingga jodoh.

Benar-benar bisa efektif kah, batin saya pas mendengar ceritanya. Lalu, saya jadi penasaran rasanya ngobrol sama orang asing dan baru. Demi membuktikan omongan teman itu, saya pun menjajalnya. Kali ini, saya memilih media sosial Twitter untuk mencari mutual (teman yang bisa diajak saling follow). Pasalnya, pengguna Twitter sudah familier dengan mutual-an seperti ini. Jadi, lebih mudah bagi saya untuk mencari orang asing untuk diajak curhat.

Harap berlangganan  atau beli akses artikel ini untuk melanjutkan.

Target mendapatkan tiga mutual baru akhirnya gagal. Saya cuma berkenalan dengan dua orang. Itu pun komunikasi dengan mutual ketiga hanya bertahan singkat saja. Sementara itu, mutual pertama yang suka membahas zodiak justru nggak ada balasan sama sekali.

“Ngobrol sama stranger jauh memberikanku hubungan yang bermakna sih. Aku nggak lagi merasa sepi atau kosong,” katanya.

“Bagus kok…walau nggak wah juga,” katanya.

Pekerjaan kantor beres saat menjelang malam. Selepas beristirahat, saya memutuskan untuk menjelajah dunia maya. Maklum, bekerja sebagai content creator Hipwee, menuntut saya untuk selalu tahu kabar terbaru. Nah, ketika membuka akun Twitter, saya berteriak girang. Pasalnya, saya melihat satu pesan masuk. Ternyata, mutual yang menyukai kucing kemarin, menanggapi.

Saya sempat menanyakan beberapa hal terkait buku pada mutual kedua. Lantaran mutual kedua pernah mencuitkan soal buku berjudul Parade Hantu di Siang Bolong, saya tertarik menanyakan kesannya tentang buku itu. Sudah sejak lama saya mengidamkan buku tersebut. Tapi, saya masih ragu untuk membelinya. Karena kebetulan mutual kedua sudah pernah membacanya, saya ingin menanyakan beberapa hal padanya.

Setelah mengirimkan pesan via DM, saya tinggal menunggu balasan mereka. Sayangnya, hari pertama masih belum ada balasan. Sembari menunggu, saya pun mencari akun-akun lain yang potensial diajak berteman di Twitter.

Meski sedikit kecewa dengan mutual ketiga, saya senang karena tawaran pertemanan disambut oleh mutual kedua yang doyan membaca buku. Yang lebih membahagiakan, obrolan kami bertahan lebih lama dibandingkan dengan obrolan saya dengan mutual ketiga.

Seperti biasa, saya langsung membuka ponsel saat bangun tidur. Bedanya, kali ini saya tidak membukan pesan Whatsapps dan mengabaikan pesan dari orang-orang tersayang. Sebaliknya, saya meluncur dulu ke Twitter.



Lanjut baca dengan login terlebih dahulu.

Menurut mutual kedua, buku tersebut berisi liputan-liputan yang bagus, sudut pandang yang menarik, dan tema yang seru, seperti lokalitas. Intinya, kata dia, tulisan-tulisan di dalamnya itu karya jurnalistik yang enak dibaca. Membaca penuturannya, saya jadi makin tertarik dan yakin untuk membeli buku itu.

Tak sembarangan memilih mutual, saya sengaja menyeleksi sejak awal mutual seperti apa yang akan dihubungi. Pertama, saya perlu memastikan kalau calon tidak punya jejak digital yang problematik, misalnya mencuitkan bullying, kekerasan, intoleran, seksis, atau rasis. Kedua, saya mencari mutual yang mempunyai ketertarikan yang sama dengan saya, yakni ngomongin kucing, buku, dan zodiak. Ketiga, agar lebih mudah, saya menargetkan akun-akun yang tidak ‘tergembok’ dan membuka fitur Direct Message (DM).

Berbekal dua kriteria itu, saya berselancar di Twitter di sela-sela kesibukan kerja. Pada akhirnya, saya menjatuhkan ke tiga akun mutual. Akun pertama terlihat cukup sering membahas zodiak. Saya makin tertarik ketika tahu kalau pemilik akun memiliki zodiak yang sama dengan saya, yakni Cancer. Bakal nyambung dan seru, pikir saya.

Hal lain yang banyak terjadi saat kita menua adalah kehilangan teman. Sama seperti saya yang alami. Teman-teman pasti semakin sibuk dengan kehidupannya masing-masing ketika beranjak dewasa. Bahkan, tak sedikit teman yang akhirnya berjarak karena memang harus pindah kota demi menjemput rezeki dan impian.

Asalkan bisa tetap bijak dan hati-hati, strategi ‘berkenalan dengan stranger untuk menepis sepi’ ini layak dicoba. Seperti pengakuan teman saya ini…

Namun, semua itu cukup layak untuk dijalani. Meskipun terhitung singkat, obrolan dengan mutual baru nyatanya berdampak positif. Setidaknya rasa sepi yang menghampiri saya, terutama saat malam hari tiba, sedikit terusir. Berbagi ide, cerita, atau gagasan dengan orang asing seolah membawa saya pada dunia baru yang sebelumnya tak pernah saya rasakan.

Ternyata, bukan cuma saya yang mengalami. Beberapa teman dan kenalan mengeluhkan hal yang sama. Bahkan, demi mengusir rasa sepi, mereka banyak yang mencari kenalan baru lewat aplikasi kencan.

Dulu, kita bisa sering bertemu dan bercerita. Lantas, seiring berjalannya waktu, kita mulai jarang berkomunikasi dan bertukar kabar. Yang bikin sedih, kita jadi seolah tak saling mengenal. Paling mentok hanya jadi viewer di Instagram Story. Kehidupan dewasa memang rentan bikin siapa pun bukan cuma merasa sendiri, tapi juga sangat sepi.